BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Manusia sebagai mahluk sosial membangun struktur dalam masyarakat
menggunakan apa yang disebut dengan akal. Akal ini lah yang membedakan manusia
dengan hewan, dimana manusia dengan akalnya dapat membedakan mana yang baik
atau tidak, benar atau salah, dan indah atau tidak indah. Sedangkan hewan
memiliki naluri yang dipergunakan untuk bertahan hidup terlepas apakah itu baik
atau tidak.
Jauh sebelum itu
sudah berkembang pemikiran-pemikiran yang mengembangkan mengenai masalah
kemanusiaan untuk menuju kesejahteraan dan ketertiban. Ketertiban dalam
masyarakat tercapai dengan adanya kesepakatan-kesepakatan antara individu
dengan individu yang lainnya. Di timur daerah timur banyak para pemikir-pemikir
yang telah memberikan karya mengenai humaniora[1].
Mengenai permasalahan kemasyarakatan ini menjadi titik penting kemajuan yang
mendahului kaum barat. Dimana pada saat itu kaum barat masih dalam lingkup dark
age. Blok timur tengah dengan bermunculan pemikir-pemikir di segala
aspek seperti ibnu ghazali dalam bidang logika, ibnu sina
bidang kedokteran, al jabar dalam bidang logaritma, dan lain-lain.
Selama berabad-abad
orang muslim betul-betul memahami secara taken for granted adagium dalam
bahasa Arab, Al-Islam ya'lu wa la yu'la' alaybil” (Islam adalah unggul,
dan tak terungguli oleh yang lain). Sikap mereka itu tentunya bisa dipahami,
karena memang dapat dikatakan bahwa Islam memegang supremasi dunia sejak agama
itu tampil ke muka bumi sampai munculnya zaman
modern. Sejarah Islam ditandai oleh berbagai variasi jatuh bangun dan
naik turun kekuatan politik kaum muslim. Namun supremasi mereka atas golongan
nono-muslim di semua bidang, termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK), tetap bertahan bahkan dalam masa titik paling rendah kekuatan politik
dan militer mereka. Gambaran tentang sikap orang-orang muslim saat itu
cenderung memandang rendah “orang-orang Utara” (Eropa) dapat diperoleh dari
kutipan pandangan Shaid al-andalusi, seorang sarjana Muslim Spanyol. Dalam
bukunya Thabaqat al-Umam (Tingkat-tingkat bangsa-bangsa), tentu orang-orang
Eropa itu, Shaid mengatakan demikian :
...Adapun
selain kategori bangsa-bangsa ini yang tidak pernah mengembangkan ilmu pengetahuan, mereka itu lebih mirip binatang dari pada manusia. Di antara mereka
yang hidup jauh di utara yaitu antara ujung iklim ke tujuh dan batas-batas
dunia yang bisa dihuni manusia---begitu besar terpengaruh oleh jarak matahari
yang amat jauh dari azimut di atas kepala mereka, yang mengahsilkan iklim
dingin yang sangat pekat, sehingga watak mereka menjadi dingin dan jasmanai
mereka kasar. Akibatnya, badan mereka menjdai besar-besar, warna kulit mereka
pucat dan rambut mereka panjang (berewak). Dikrenakan hal yang sama, mereka
kurang tajam dalam kecerdasan dan daya paham, serta bercirikan kebodohan dan
kedunguan. Ketololan dan kebutaan mental juga sangat umum terdapat pada
bangsa-bangsa Slavia, Bulgaria, dan bangsa-bangsa sekitarnya[2].
Ini menjadi
kekuatan bagi masyarakat Islam dengan kemajuan-kemajuan dari hasil
pemikirannya. Barulah pada saat menginjak abad ke-16 ke atas terjadi invansi besar-besaran
yang dilakukan oleh bangsa barat. Dengan banyaknya bangsa barat yang bepergian
ke luar dari negaranya. Dengan banyak keluarnya orang-orang barat dari
rumahnya, disamping untuk berdagang banyak juga sembari melakukan kegiatan
berdaganya tersebut, adanya proses saling bertukar pikiran di antaranya. Ini
terlihat dengan banyaknya kitab-kitab hasil penulisan pemikir-pemikir Blok
timur yang dibawa ke negerinya, diterjemahkan lantas dipelajari untuk
kemaslahatan bersama.
Ini menjadi
kemajuan yang sangat luar biasa, terlebih dalam bidang filsafat yang berkembang
dengan sangat pesat . Dark age lama-kelamaan telah berubah menjadi zaman
pencerahan . Dimana pemikirannya sudah mulai terbuka dan jauh ke arah masa
depan. Tetapi keadaam berubah total setelah munculnya zaman modern oleh
revolusi industri di Inggris dan reevolusi sosial-politik di Perancis pada
paruh abad ke-18. Masyarakat manusia tidak lagi diatur oleh pola-pola gelombang
I (First Wave, istilah Alvin Toffler) yang telah dirintis oleh bangsa
Sumeria di lembah mesopotamia pada 5000 tahun yang lalu, yaitu pola masyarakat
yang berdasarkan hubungan ekonomi agraris. Selain itu ciri perkotaan islam ini
mempunyai implikasi yang sangat luas. Salah satunya ialah ciri kesarjanaan (Scholarship)
atau intelektualisme. Etos keilmuan itulah yang kelak diwariskan oleh peradaban
Islam kepada Barat, kemudian dikembangkan oleh Barat begitu rupa, sehingga
mereka justru mendului kaum Muslim memasuki zaman modern, dan membuat kaum
muslim dalam kesulitan yang tidak kecil.
Sejak era Renaissance hingga memasuki abad ke 20 M. Alam pikiran di
eropa barat ditandai oleh kemunculannya berbagai aliran filsafat yang tidak
mudah dipertemukan. Pertemuan tersebut menghasilkan pertentangan, sehingga
filsafat justru mengaburkan adanya landasan yang pasti sebagai titik pijak
untuk mengembangkan pemikiran sebagai proses penalaran yang sistematis dan
konsisten[3].
Kemajuan tersebut
terus melaju demi kepentingan manusia, dengan hal itu mempengaruhi perkembangan
pemikiran masyarakat yang ada di sekitarnya ataupun jauh ke Asia sana. Meskipun
secara tidak disadari dan minimnya sumber-sumber sejarah yang menerangkan
mengenai kemajuan bangsa Asia, terlebih kemajuan yang berkembang di daerah
tataran Sunda (Sondaica). Berdasarkan fenomena tersebut penulis sangat
tertarik untuk mempertemukan tentang teori fenomenologi milik Edmund Husserl
yang di pakai untuk menelaah salah satu
pakem yang berkembang dalam masyarakat Sunda.
B. Identifikasi masalah.
Bagaimana teori
fenomenologi Edmund Husserl bisa menganalisis sejauh mana perkembangan adat
budaya dari Sunda mengenai silih asih, silih asah , dan silih asuh ?
[1] Humaniora berasal dari program pendidikan Cicero yaitu
“Humanitas” yang bertujuan menjadikan orator yang andal humanitas berarti
kualitas, perasaan, dan peningkatan martabat kemanusiaan dan lebih berfungsi
normatif dari pada deskriptif.
[2] Shaid Al-andalusi, Kitab Tahbaqat Al-Umi, ed.L.Chieko (Beirut;Al-Mathba’at
al-Katsulikiyah 1912), hlm. 8-9. (Dikutip Philip K.Haiti, Islam and The West, New Jersey, 1962, hlm. 166
[3] Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, Pustaka Jaya, Jakarta, 1996.
[5] M.Ramlan, Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif, Karyono, Yogyakarta, 1987,
hlm. 22
[6] Ibid,
hlm. 23
[7] Webster’s
New College Dictionary, New York,
1981, hlm. 225
[8] Chaedar Alwasilah, Pengantar Sosiologi Bahasa,
Angkasa, Bandung, 1993, hlm. 70
[9] Chandler, Daniel, Semiotics: The Basics, London: Routledge, 2002
[10] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer ; Sebuah
Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2005, 151.
[11] Ia adalah seorang ahli ilmu
pasti dan profesor filsafat dari Universitas Freiurg di Breagaua (jerman
Selatan) kira-kira satu abad yang lalu
[12] Franz Betano adalah guru
filsafat Edmund Husserl , karya filsafat nya mempengaruhi : Edith Stein, Eugen
Fix, Max Scheiler, Martin Heidegger, Jean Paul Sastre, Emmanuel Levinas,
Maurice Mauley Ponty
[13] Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat BAru Modern,
Gramedia, Jakarta, 1983, hlm. 114
[14] Penundaan semua asumsi
tentang kenyataan demi memunculkan esensi
[15] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta, 2005,
hlm. 997. (Rigoris adalah suatu sikap pikiran dimana dalam pertentangan
pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan, bersikeras mempertahankan
pandangan yang sempit dan ketat)
[16] Meilhat sampai pada
hakikatnya
[17] Disebut juga “reduksi”
mengumpulkan dan menyaring fenomena untuyk sampai ke intisarinya (edios), atau sejatinya (wessen)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar